Oleh Hidayat Tri
Para tamu Allah, khususnya Jamaah Haji Kota Bekasi, kloter demi kloter mulai kembali ke Kota Bekasi. Mereka bukan hanya pulang membawa oleh-oleh dan kisah indah dari Tanah Suci tetapi lebih dari itu mereka pulang membawa jejak spiritual yang dalam. Di balik derai air mata saat wukuf di Arafah, letihnya kaki melangkah dalam Thawaf dan Sai, serta deru takbir saat melontar jumrah, tersembunyi sebuah harapan besar menjadi haji yang mabrur.
Haji yang Mabrur adalah kualitas ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT, ditandai dengan perubahan perilaku jamaah menjadi lebih baik, lebih taat beribadah, dan memberikan manfaat nyata bagi sesama.
Parameter seorang haji yang mabrur bisa dilihat seperti adanya peningkatan kesalehan (spiritual dan sosial) yang ditandai dengan ibadahnya yang semakin istikamah dan meningkat dibandingkan sebelum berhaji, memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan, gemar bersedekah (terutama memberi makan), dan dermawan. Bertutur kata baik (thayyib al-kalam), mampu mengendalikan emosi, serta menghindari pertengkaran dan perbuatan maksiat serta lebih mengutamakan urusan akhirat dan tidak terbuai dengan kemewahan duniawi.
Talbiyah bukan sekadar ritual yang berhenti di lisan, melainkan pengakuan runtuhnya ego. Ia menenggelamkan “kibr” karena menegaskan bahwa hidup bukan tentang kebesaran diri, melainkan ketaatan kepada Allah SWT.
Praktik haji menantang “hirsh” dengan mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan pada kepemilikan; kita rela meninggalkan harta dan kenyamanan demi memenuhi panggilan ilahi. Puncaknya, wukuf di Arafah menggambarkan mahsyar. Berjuta manusia dalam kesederhanaan, sama dalam dosa dan harap, sehingga hasad mereda karena kesadaran akan kefanaan dan kebutuhan akan ampunan.
Singkatnya, talbiyah dan Arafah adalah rangkaian transformasi spiritual yang menghancurkan kesombongan, menundukkan kerakusan, dan melembutkan hati dari dengki. Haji mabrur terwujud ketika jiwa benar‑benar kembali tunduk kepada Allah dan lapang terhadap sesama.
Bahkan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah telah menyingkap bahwaakar terdalam dari berbagai penyimpangan manusia adalah:
“Pokok segala dosa ada tiga: kesombongan yang menyeret Iblis pada kehinaannya, kerakusan yang menyebabkan Adam terusir dari surga, dan dengki yang mendorong salah satu anak Adam membunuh saudaranya sendiri. Siapa yang diselamatkan dari tiga hal ini, ia akan terlindungi dari berbagai keburukan. Kekufuran lahir dari kesombongan, kemaksiatan tumbuh dari kerakusan, sedan gkan kezaliman dan permusuhan berasal dari kedengkian.” (Al-Fawā’id, hlm. 58).
Haji mabrur merupakan tingkat tertinggi capaian ideal dalam beribadah haji, bahkan Nabi bersabda tidak ada balasan yang lebih pantas dari haji yang mabrur selain surga.
Kemabruran haji ini tidak akan datang sendiri tanpa penghayatan yang berarti.
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS Al Baqarah: 177).
Kemabruran haji identik dengan ketakwaan, dengan ihsan menjadi orang yang muhsin dan seluruh nilai puncak keutamaan sebagai insan muslim. Ibadah haji sebagai tonggak terpenting dalam hidup sebagai seorang muslim untuk naik tingkat menjadi ihsan yang muhsin, muttaqin, insan yang saleh dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, berbuat segala macam kebajikan hidup, berbuat ihsan terhadap sesama dan lingkungan.
Imam al-Hasan al-Bashri, sebagaimana dikutip al-Qurthubi dalam tafsirnya, menyebutkan bahwa “tanda haji mabrur adalah adanya perubahan nyata dalam kehidupan seseorang. Ia menjadi lebih zuhud terhadap dunia, lebih rindu kepada akhirat, semakin tekun dalam ibadah, serta akhlaknya kian mulia terhadap sesame”.
Sementara itu, Imam al-Nawawi, dalam al-Idhah fi Manasik al-Hajj mengatakan bahwa “di antara tanda diterimanya haji, sebagai haji mabrur, adalah seseorang kembali dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi perbuatan maksiat yang pernah dilakukan sebelum melaksanakan ibadah haji”.
Oleh karenanya, menjaga kemabruran sesungguhnya adalah menjaga momentum perubahan. Kuncinya ada pada muraqabah, yakni kesadaran bahwa hidup ini selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Inilah bentuk ketakwaan hati yang hakiki sebagaimana firman Allah Swt., “Wa man yu’azhzhim sha’a’ir Allah fa innaha min taqwa al-qulub”, “Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu lahir dari ketakwaan hati” (QS. al-Hajj: 32).
Menjaga kemabruran juga berarti menjaga misi haji sebagai momentum perbaikan diri. Artinya, kita harus terus belajar mengendalikan nafsu, menyuburkan kejujuran, dan menebar rahmat dalam kehidupan sosial. Di tengah derasnya arus kehidupan yang sering kali melenakan, semangat kemabruran menjadi rem spiritual agar kita tidak terjerumus dalam tipu daya dunia. Ahlan wa Sahlan Jamaah Haji Kota Bekasi Tahun 1447 H/2026 M, semoga kemabruran haji senantiasa terawatt dan terjaga sepanjang hayat.

