Haji Disabilitas

Oleh H. Chotim Wibowo

SEBAGIAN jamaah haji sudah pulang ke tanah air. Mereka, pulang dengan membawa berbagai pengalaman. termasuk kesan dan pengalaman, yang dialami saat di tanah suci.

Seribu jamaah haji, bisa jadi ada seribu kisah. Umumnya, mereka mengisahkan berhaji yang luar biasa.

Adalah H. Siswadi, sesepuh dan sahabat yang baru dua tiga hari pulang ke tanah air. “Alhamdulillah, semua berjalan lancar,” kata pendiri Pusat Kajian Manajemen Strategis (PKMS) ini.

Di tanah suci, setiap waktu dan sisi adalah karunia. Setiap nafas adalah syukur. Bagaimana tidak, ketika dari awal perjalanan yang demikian singkat, kemudian selama perjalanan yang penuh dengan keberkahan dan kemudahan, sampai kepulangan yang diberikan kelancaran.

Siswadi yang juga Ketua Dewan Pembina Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) juga merasakan pengalaman yang luar biasa. Bukan hanya dalam beribadah haji, tetapi juga dalam pengalaman perjalanannya.

Sebagai aktifis dan pemerhati kaum difabel, perjalanannya tak bisa lepas dari perhatian kepada kaum difabel. “Dalam rekomendasi Kemenhaj terhadap pelaksanaan haji tahun ini, miris karena tidak ada satu kata pun yang menyinggung kaum difabel. Padahal di lapangan banyak sekali jamaah dari difabel atau lansia.”

Siswadi, Ketua Dewan Pakar MES Kota Bekasi ini pantas prihatin, karena kaum difabel dalam pelaksanaan haji masih dianggap menjadi kaum yang berbeda. Mereka lebih tampak mementingkan yang lain.

Disebutkan misalnya, bis shalawat tidak akses bagi jamaah disabilitas. Juga toilet khusus yang disediakan bagi jamaah disabilitas hendaknya memberi prioritas bagi kaum difabel.

Di bagian lain, fatwa rukhsoh terhadap fasilitas tahapan umroh dan haji tidak akses bagi penyandang disabilitas.

Inilah beberapa catatan yang langsung ditemukan saat haji tahun ini, khususnya kepada penyandang disabilitas. Dan catatan ini, sudah disampaikan kepada person Dewan Nasional Disabilitas dan juga Komisi VIII DPR RI. Agar, ke depan lebih diperhatikan dan bukan hanya sampai di tataran catatan.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah visi haji Negara Arab Saudi pada tahun 2030 adalah target 4-5 juta jamaah. Tahun itu, Arab Saudi sudah menerapkan digitalisasi admnistrasi. “Nah, jamaah kita apa tidak dipersiapkan untuk menyambut itu?” katanya menutup perbincangan. (*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *