Oleh: Hidayat Tri
Bila kita jalan-jalan ke Perumahan Telaga Sakinah Cibitung Bekasi, maka di pintu gervbang sebelah kiri terdapat Danau dan Masjid Baitul Makmur, maka kita akan menikmati sebuah masjid ramah lingkungan dan telah menjadi percontohan nasional masjid ramah lingkungan.
Masjid Baitul Makmur ini, mengintegrasikan konsep eco-masjid (masjid ramah lingkungan) dan pemberdayaan umat secara komprehensif. Fokus utama manajemennya adalah mengubah masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat solusi lingkungan dan sosial. Gerakan yang diimplkementasi Dewan Kemakmuran Masjid Baitul Makmur seperti Gerakan Sedekah Sampah di mana jamaah masjid menyedekahkan sampah anorganik (plastik, kertas, logam), baju layak pakai, dan minyak jelantah dalam kondisi bersih dan terpilah. Hasil yang didapat dari sedekah sampah digunakan untuk mendukung operasional masjid, termasuk membiayai pengajian anak-anak, kelas bahasa Inggris.
Penggunaan keran khusus yang hemat air, daur ulang air bekas wudhu untuk menyiram tanaman dan budidaya ikan lele, penggunaan lampu panel surya, serta pembuatan sumur resapan/biopori. Dan yang lebiuh menarik masjid mengelola Kawasan di samping masjid seluas 2.500 meter persegi dengan menyediakan area edukasi lingkungan melalui edukasi system penanaman hidroponik, pembibitan, dan galeri Kelola 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) dan di dalamnya didirikan saung-saung, jalur pejalan kaki yang nyaman dan asri. Kawasan ini diberi nama Baitul Makmur Eco Edu Park.
DKM juga menawarkan berbagai paket wisata berupa pelatihan berbasis eco (lingkungan) yang sarat dengan nuansa edukasi dan rekreasi. Tingginya kesadaran jamaah dan masyarakat sekitar masjid, akan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan usaha mereka untuk mengubah sampah yang menganggu lingkungan akhirnya tidak sia-sia. Ada begitu banyak hal yang dapat dipelajari di Baitul Makmur Eco Edu Park ini.
Budaya ramah lingkungan harus menjadi gaya hidup masyarakat (life style), siapapun, kapanpun dan dimanapun dalam kehidupan sehari-hari pada lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, masjid/tempat umum, kampung, desa, kota, negara dan dunia. Oleh karenanya sangat dibutuhkan perubahan pola pikir (mindset), sikap dan perilaku masyarakat. Hal inilah yang kemudian diterapkan DKM untuk memberanikan diri menjadi agen perubahan dengan prinsip “satu keteladanan lebih berharga daripada 1000 nasihat”.
Edukasi-edukasi yang dilakukan DKM seperti kewajiban jamaah masjid untuk memilah sampah sesuai jenisnya (kertas, plastik, logam dan organik), setiap tumah tangga jamaah wajib membawa dan memasukan sampah ke dalam drum/plastik sampah terdekat sesuai jenisnya, setiap rumah tangga jamaah wajib mengolah sampah organik sendiri-sendiri menjadi kompos, telah lama diimplementasikannya.
Bahkan DKM juga melarang jamaah untuk membakar sampah, dilarang memakai kotak makanan dari gabus styrofoam, dilarang membuang sampah ke saluran irigasi/drainasi, sungai, saluran IPAL dan tempat lain yang bukan tempatnya. Tidak memakai popok sekali pakai pada bayi dan anak, membawa tas belanja dari rumah untuk mengurangi sampah plastik, menyajikan makanan/minuman dengan memakai piring dan gelas, melakukan kerja bakti kebersihan lingkungan.
Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Gaya hidup ramah lingkungan (eco living) bukan hanya menjadi tren baru, tetapi sudah menjadi kebutuhan, lantaran diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup. Bagi masyarakat urban, eco living adalah pilihan utama sebagai aktualisasi kepedulian terhadap lingkungan keberlanjutan.
Keterkaitan dan ketergantungan hubungan antar komponen ekosistem (manusia, hewan, air, udara, tanah dan tumbuhan) harus dipertahankan dalam kondisi yang stabil dan seimbang. Perubahan salah satu komponen akan mempengaruhi komponen lainnya. Cuaca yang sering tak menentu, tiba-tiba panas, kemudian hujan, itu semua disebabkan oleh perubahan iklim. Perubahan iklim berarti berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang berdampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia.
Ada banyak hal sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang terus terjadi saat ini. Suatu langkah kecil dapat berperan besar untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Selalu berpikir bahwa setiap aktivitas manusia selalu menimbulkan pengaruh terhadap lingkungan, sadar akan eratnya keterkaitan antara manusia dan kerusakan alam akibat keseharian pola hidup manusia. Hal ini merupakan pola pikir dan beraktivitas yang mencerminkan eco life.
Menjaga eco living atau menjaga ekosistem hidup merupakan cara mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup yang harmonis dan selaras dengan keseimbangan lingkungan hidup tempat tinggal. Oleh karena itu, pemahaman eco living sangat bermanfaat bagi kita dan kelangsungan hidup manusia.
Hidup ramah lingkungan adalah gaya hidup yang mencoba untuk mengurangi penggunaan sumber daya alam dan harta pribadi yang dilakukan oleh pribadi maupun masyarakat. Pelaku gaya hidup hidup ramah lingkungan sering mencoba untuk mengurangii jejak karbon yang mereka hasilkan dengan mengubah moda transportasi, konsumsi energi, dan konsumsi makanan. Para pendukung gaya hidup ramah lingkungan bermaksud untuk menjalani kehidupan mereka dengan cara yang konsisten dengan keberlanjutan, keseimbangan alam dan menghargai hubungan simbiosis antara manusia dengan ekologi dan siklus alam.
Hidup ramah lingkungan pada dasarnya merupakan penerapan dari keberlanjutan atas keputusan dan pilihan gaya hidup. Salah satu konsepsi tentang hidup ramah lingkungan adalah untuk mengungkapkan apa yang dimaksudkan dari “tiga pilar besar”, yaitu sebagai pemenuhan kebutuhan ekologi, sosial, dan ekonomi tanpa mengorbankan faktor-faktor tersebut bagi generasi mendatang.

