Jakarta—meskotabekasi.org—Muslin Shared Action on Climate Impact (MOSAIC) menggelar diskusi strategis dengan tema “Potensi Keuangan Islam untuk Pendanaan PLTS Berbasis Komunitas” (24/06) di Perpustakaan Nasional Jakarta. Diskusi ini menghadirkan para pakar seperti Direktur Keuangan Sosial Syariah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Ibu Dr. Dwi Irianti Hadiningdyah, SH., MA. Analis Keuangan Negara Ahli Muda Bidang Tugas Pembiayaan dan Risiko Keuangan, Kemenkeu RI, Bapak Safrudin Sabto Nugroho. Tenaga Ahli Optinalisasi Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Kementerian Koperasi RI, Bapak Roysepta Abimanyu. Ketua Badan Pengurus Lazismu, Bapak Ahmad Imam Mujadid Rais. Finance and business Development Katadata, Bapak Ivan Triyogo Priambodo dan Bendahara MOSAIC, Ir. Hidayat Tri Sutardjo, MM.
Menurut Hidayat Tri “Pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih rendah walau potensinya besar. Data menunjukkan bahwa Energi matahari yang berpotensi 207,8 gigawatt baru dimanfaatkan sekitar 0,07%, sementara panas bumi baru 8,9%”.
“Program pemerintah untuk pemanfaatan energi matahari 100 Gigawatt (GW) bukanlah angka yang kecil. Ini adalah lompatan besar. Namun, kita harus menyadari bahwa untuk mencapai angka tersebut, kita tidak bisa hanya mengandalkan proyek-proyek skala industri besar semata. Kita perlu menyentuh akar rumput. Di sinilah pentingnya konsep “Solarisasi Berbasis Komunitas”
Lebih lanjut, Ketua MES Kota Bekasi ini menegaskan “Mengapa komunitas? Karena ketika masyarakat memiliki dan mengelola energinya sendiri, kemandirian ekonomi akan tercipta. Transisi energi tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga menjadi alat pemberdayaan kesejahteraan sosial”, tandasnya.
“Proyek PLTS berbasis komunitas ini tentunya membutuhkan pembiayaan yang lebih bankable sekaligus berdampak sosial. Celah pembiayaan yang besar membuka ruang bagi keuangan Islam untuk hadir sebagai solusi nyata, melalui skema blanded finance yang mengintegrasikan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf dengan instrumen seperti Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS)”
Dalam penutup, Bendahara Umum MOSAIC menjelsakan bahwa hambatan terbesar dalam akselerasi energi terbarukan seringkali terletak pada aspek (1) Ketergantungan pada batu bara, sehingga membutuhkan kebijakan kuat dan perubahan bertahap (2) Minimnya literasi masyarakat akibat kurangnya edukasi membuat dukungan terhadap produk dan kebijakan ekonomi hijau masih rendah (3) Tingginya biaya investasi berupa infrastruktur energi hijau membutuhkan biaya besar. Sehingga dibutuhkan strategi pendanaan dan dukungan luas agar target nol emisi 2060 tercapai (hd).

