Jakarta—meskotabekasi.org– Dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks, penguatan ekosistem ekonomi syariah menjadi salah satu agenda strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing. Untuk itu, CSED INDEF bersama Universitas Paramadina menggelar Seminar Catatan Tengah Tahun Ekonomi Syariah Indonesia 2026 dengan tema “Refleksi, Tantangan, dan Strategi Pengembangan Ekosistem Ekonomi Syariah Indonesia” pada Selasa (14/7) di Auditorium Universitas Paramadina Jakarta.
Menurut Prof. Didik J Rachbini, menjelaskan bahwa “Ekonomi syariah memiliki posisi yang semakin strategis. Potensi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia merupakan modal yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi keunggulan kompetitif”.
“Pangsa pasar keuangan syariah masih relatif terbatas, daya saing industri halal masih perlu diperkuat, dan integrasi antar-sektor ekonomi syariah masih menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, pengembangan ekonomi syariah tidak dapat lagi dilakukan secara parsial, melainkan harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung dan saling menguatkan” tegasnya.
Sementara itu, Direktur CSED INDEF, Prof. Nurhidayat mengatakan “Indonesia memiliki modal yang sangat besar sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, pasar halal domestik yang luas, pertumbuhan aset keuangan syariah yang terus meningkat, serta dukungan regulasi yang semakin kuat. Namun di sisi lain, berbagai indikator menunjukkan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi daya saing global.”
“Catatan tengah tahun Ekonomi Syariah 2026 ini mendokumentasikan perkembangan ekosistem ekonomi syariah Indonesia pada Semester I Tahun 2026, sekaligus mengajak pembaca melihat perubahan struktural yang terjadi. Pembahasan tidak sekadar menyajikan data, tetapi juga mengidentifikasi akar persoalan, mengevaluasi efektivitas kebijakan, serta merumuskan strategi transformasi yang relevan”, menurut Dosen UIN Jakarta ini.
Lebih Lanjut Prof. Nurhidayat menegaskan bahwa “Temuan penting dalam Catatan Tengah Tahun ini adalah kebutuhan untuk menggeser orientasi pembangunan ekonomi syariah dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju penciptaan nilai. Pendekatan Values-Based Economy dan praktik Value-Based Intermediation menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi syariah diukur dari kontribusi pada kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan sektor riil, bukan hanya besarnya aset atau laba.”
Berbagai rekomendasi yang didapat adalah fragmentasi kelembagaan, rendahnya koordinasi antar-pemangku kepentingan, lemahnya hilirisasi industri halal, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital dan instrumen keuangan sosial Islam masih menghambat laju Ekonomi Syariah sebagai penggerak pembangunan nasional
Penasihat CSED INDEF, Dr. A Hakam Naja, mengatakan “Indonesia perlu fokus pada sektor-sektor yang secara potensial dan natural bisa mendongkrak pengembangan Industri Halal nasional seperti: Fesyen Muslim, Makanan Halal dan Pariwisata Ramah Muslim”.
“Fesyen Muslim dan Makanan Halal yang menjadi sektor prioritas pengembangan perlu dioptimalkan tidak hanya mengandalkan pasar domestik yang besar, tetapi mesti berorientasi ekspor ke seluruh dunia khususnya ke negara-negara OKI”.
“Percepatan pembangunan ekosistem ekonomi syariah dengan mensinkronkan dan mengkolaborasikan sektor keuangan syariah dengan sektor riel industri halal dari pusat sampai daerah, sehingga ekonomi syariah berkembang menjadi kekuatan untuk mendongkrak pertumbuhan dan pemerataan nasional”, tambah Hakam.
Melalui refleksi atas capaian Semester I Tahun 2026 serta berbagai strategi transformasi yang ditawarkan, Catatan Tengah Tahun Ekonomi Syariah ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah, regulator, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat dalam mempercepat terwujudnya Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi syariah dunia.
Seminar Catatan Tengah Tahun ini menghadirkan Prof. Didik J Rachbini, Prof. Nurhidayat, Dr A. Hakamn Naja, R. Eko Adi Irianto. Dan Bobby P Manullang dan dihadiri 200 peserta online dari berbagai unsur Masyarakat termasuk Hidayat Tri dan Husnul Khatimah dari MES Kota Bekasi (hd).

