Oleh Dr. Syahruddin Ramlan, SE, MPA
Sejarah ekonomi memiliki kebiasaan menarik: ia jarang berulang persis sama, tetapi pola perilaku manusia sering kembali. Crash Wall Street 1929 adalah salah satu pengingat terbesarnya. Hampir satu abad kemudian, ketika artificial intelligence (AI) mendorong optimisme luar biasa di pasar saham, pertanyaan lama kembali relevan: sampai di mana pasar dapat mengatur dirinya sendiri, dan kapan negara harus hadir?
Menjelang 1929, Amerika Serikat sedang menikmati Roaring Twenties. Teknologi berkembang, konsumsi meningkat, kredit mudah, dan harga saham melambung. Dow Jones naik sekitar enam kali lipat dari 1921 hingga puncaknya pada September 1929. Masyarakat membeli saham dengan dana pinjaman melalui margin accounts. Ketika pasar berbalik, leverage yang sebelumnya memperbesar keuntungan berubah menjadi mesin penghancur kekayaan. Pada Black Monday, Dow jatuh hampir 13 persen dan kembali turun hampir 12 persen pada Black Tuesday.
Andrew Ross Sorkin dalam 1929 menghidupkan kembali kisah tersebut bukan semata sebagai sejarah pasar modal, tetapi sebagai cerita tentang optimisme, spekulasi, kekuasaan finansial, dan kegagalan manusia membaca risiko.
Konteks hari ini tentu berbeda. AI bukan sekadar spekulasi. Ia merupakan teknologi nyata yang berpotensi meningkatkan produktivitas, mengubah industri, dan menciptakan model bisnis baru. Namun, teknologi revolusioner tidak otomatis membuat setiap valuasi saham yang mengatasnamakannya menjadi rasional.
Tanda kewaspadaan mulai muncul. Bank of England mencatat pada Juli 2026 bahwa valuasi perusahaan terkait AI tumbuh lebih cepat daripada indeks saham secara keseluruhan dan konsentrasi pasar meningkat. Sekitar separuh kapitalisasi S&P 500 kini terkait perusahaan AI, dibanding sekitar seperempat pada 2022.
Di sinilah 1929 memberikan pelajaran. Masalah terbesar bukan optimisme, melainkan ketika optimisme berubah menjadi keyakinan bahwa harga hanya mempunyai satu arah: naik.
Namun terdapat paradoks. Ketika pasar sedang naik, intervensi negara dianggap mengganggu efisiensi dan inovasi. Regulasi diminta minimal, modal dibiarkan mencari keuntungan terbaik. Tetapi ketika pasar jatuh dan risiko menjadi sistemik, negara justru dipanggil menjadi penyelamat terakhir. Keuntungan diprivatisasi ketika keadaan baik; kerugian berpotensi disosialisasikan ketika sistem terancam.
Pengalaman 1929 menunjukkan bahwa crash saham sendiri bukan satu-satunya penyebab Depresi Besar. Krisis perbankan berikutnya dan kesalahan kebijakan memperdalam kontraksi. Pada akhirnya, negara melakukan reformasi besar terhadap sistem keuangan, termasuk lahirnya Securities and Exchange Commission (SEC) dan pengaturan praktik perdagangan serta margin.
Pelajarannya bukan bahwa negara harus menggantikan pasar. Sebaliknya, pasar yang sehat membutuhkan negara yang kuat, tetapi tidak dominan: regulator yang independen, transparansi, pengawasan leverage, persaingan yang sehat, dan kemampuan mengantisipasi risiko sistemik.
IMF kini mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam sistem finansial sendiri dapat menciptakan risiko baru, termasuk strategi perdagangan yang semakin seragam dan ketergantungan pada sedikit penyedia model, data, dan cloud.
Karena itu, pertanyaan penting hari ini bukan apakah AI akan mengubah dunia. Kemungkinan besar ia akan.
Pertanyaannya adalah apakah pasar, negara, dan institusi kita cukup bijaksana membedakan revolusi teknologi dari euforia finansial yang tumbuh di sekelilingnya. Tahun 1929 mengingatkan kita: krisis sering kali tidak dipersiapkan ketika semua orang takut, tetapi ketika hampir semua orang terlalu percaya diri.

