Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)
✨ Pendahuluan: Di Antara Jalan Pintas dan Jalan Terjal
Di era modern ini, kita sering terjebak dalam hustle culture—sebuah pusaran di mana manusia berlomba-lomba menimbun materi, memamerkan saldo rekening, dan menghalalkan segala cara demi status sosial. Jalan pintas dianggap sebagai keberuntungan, dan kemandirian sering kali disamakan dengan kekuasaan.
Namun, mari kita menengok ke belakang 1.400 tahun lalu. Di awal masa hijrah, seorang sahabat mengajarkan kita makna sejati berdikari—bukan yang menghancurkan jiwa, melainkan yang meninggikan derajat manusia. Ia adalah Abdurrahman bin Auf ra.
🤲 Menolak Hadiah, Memilih Harga Diri
Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah tanpa sepeser pun harta, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan tokoh Ansar yang paling kaya, Sa’ad bin Ar-Rabi’. Dengan tulus Sa’ad berkata:
“Aku adalah orang Ansar yang paling banyak hartanya. Aku akan membagi hartaku menjadi dua bagian untukmu.” (HR. Bukhari No. 3780)
Bagi banyak orang, ini adalah keberuntungan luar biasa. Namun jawaban Abdurrahman sungguh menembus hati:
“Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Cukup tunjukkan padaku di mana pasar?”
Ia menolak hidup di atas kemurahan hati orang lain. Ia memilih menjemput rezeki sendiri. Selaras dengan sabda Nabi ﷺ:
“Sungguh jika salah seorang di antara kalian mengambil tali lalu mencari kayu bakar dan menjualnya, itu jauh lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia.” (HR. Bukhari No. 1471)
Bantuan terbaik bukanlah yang memanjakan, melainkan yang memandirikan.
🕌 Meruntuhkan Monopoli: Bisnis yang Memberdayakan, Bukan Mematikan
Di Pasar Bani Qainuqa, Abdurrahman melihat sistem monopoli yang mencekik pedagang kecil. Alih-alih ikut bermain di dalamnya, ia membangun pasar baru dengan prinsip revolusioner: berdagang tanpa biaya sewa, dan hanya mengambil keuntungan kecil dari bagi hasil.
Ini adalah wujud nyata larangan ikhtikar/penimbunan dan monopoli yang merugikan rakyat:
“Tidak ada yang melakukan penimbunan kecuali orang yang bersalah.” (HR. Muslim No. 1605)
Bisnis yang berkah bukan tentang seberapa besar kita menguasai pasar, tetapi seberapa banyak kita memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh.
⚖️ Keuntungan Tipis, Kejujuran Tebal
Ketika ditanya rahasia kesuksesannya, Abdurrahman bin Auf menjawab dengan tiga prinsip sederhana namun langka saat ini:
- ✅ Tidak menyembunyikan cacat barang
- ✅ Tidak menimbun demi keuntungan berlipat
- ✅ Rela mengambil untung sedikit asalkan barang mengalir
Sesuai sabda Rasulullah ﷺ:
“Jika keduanya jujur, niscaya transaksi mereka diberkahi. Jika berdusta, dihapuslah keberkahannya.” (HR. Bukhari No. 2079 & Muslim No. 1532)
Kejujuran adalah magnet rezeki yang paling kuat, meski terasa paling lambat.
💛 Harta di Tangan, Hati di Jalan Allah
Puncak keindahan kisahnya bukanlah kekayaannya, melainkan bagaimana ia memandang hartanya. Ketika Aisyah ra mengingatkan sabda Nabi bahwa ia masuk surga dengan merangkak karena beratnya hisab harta, ia langsung menangis dan menyedekahkan seluruh kafilah dagang—700 unta sarat muatan—untuk penduduk Madinah yang sedang paceklik.
“Seluruh kafilah ini aku sedekahkan di jalan Allah. Aku ingin memasukinya dengan berdiri.” (Musnad Ahmad, 6:115)
Allah ﷻ berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)
🌿 Penutup: Pelajaran untuk Zaman Sekarang
Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita: Kita boleh mengejar keberhasilan, tetapi tidak dengan mengorbankan martabat diri dan sesama. Hustle culture yang sehat bukanlah tentang menghancurkan orang lain untuk naik sendiri, melainkan bangkit bersama dalam keberkahan.
Kekayaan yang sejati bukanlah yang membuat kita lupa jalan pulang, melainkan yang menjadi kendaraan menuju akhirat. Semoga kisah ini menjadi cermin bagi kita semua—bahwa berdikari yang mulia dan berniaga yang berkah adalah jalan yang indah di dunia dan selamat di akhirat.

