Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)
✨ Keajaiban Kecil di Mihrab Maryam
Di sudut Baitul Maqdis yang hening, seorang nabi yang telah senja berdiri terpaku. Nabi Zakariya AS menatap sebuah keajaiban kecil di dalam mihrab tempat keponakan sekaligus anak asuhnya, Maryam binti Imran, menghabiskan waktu untuk bersujud. Di hadapan gadis suci itu, tersaji buah-buahan segar yang mustahil ada di waktu tersebut—buah musim panas yang ranum di tengah dinginnya musim dingin.
Peristiwa tak biasa ini terekam indah dalam Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran ayat 37:
“Setiap Zakaria masuk ke mihrab untuk menemui Maryam, ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, ‘Hai Maryam dari mana ini kamu peroleh?’ Maryam menjawab, ‘Itu dari Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hitungan.”
💡 Sebuah Pelajaran yang Menggetarkan Hati
Kata-kata sederhana dari lisan Maryam itu seketika meruntuhkan segala batas logika manusia di benak sang Nabi. Keajaiban di mihrab Maryam bukan sekadar tentang makanan yang datang di luar musim, melainkan sebuah pesan langit yang mengetuk hati Nabi Zakariya tentang kemahakuasaan Allah yang tanpa batas.
Saat itu, Nabi Zakariya berada di titik hidup yang secara manusiawi mustahil untuk memiliki keturunan. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, tulang-tulangnya sudah melemah, dan istrinya divonis mandul sejak masa muda. Kerinduan akan hadirnya seorang anak yang akan meneruskan dakwah agama selalu terpendam di lubuk hatinya. Namun, menyaksikan karamah yang Allah berikan kepada keluarga Imran—mulai dari keteguhan nazar Hannah (ibu Maryam) hingga kesucian jiwa Maryam—harapan yang sempat redup itu kembali menyala hebat.
Nabi Zakariya terinspirasi oleh sebuah kesadaran spiritual yang mendalam: Jika Allah mampu mendatangkan buah-buahan di luar musimnya, bukankah Allah juga sangat mampu mendatangkan seorang anak di luar musim subur manusia?
🤲 Doa yang Menembus Langit
Tergerak oleh keimanan dan keindahan akhlak keluarga Imran, Nabi Zakariya tidak menunggu lama. Di tempat yang sama, dengan hati yang bergetar penuh harap dan kepasrahan yang total, beliau langsung menghadapkan wajahnya ke langit. Sebagaimana yang diabadikan pada kelanjutan ayat di Surah Ali ‘Imran (ayat 38):
“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa’.”
Ketulusan doa yang lahir dari inspirasi kesalehan keluarga Imran itu menembus langit. Allah menjawab kepasrahan sang Nabi dengan mukjizat yang nyata. Ketika beliau sedang berdiri melaksanakan salat di mihrab, malaikat datang membawa kabar gembira tentang lahirnya seorang putra bernama Yahya.
🌿 Penutup: Cahaya yang Menular
Kisah ini menjadi bukti abadi bahwa kesalehan sebuah keluarga dapat menjadi wasilah (perantara) datangnya hidayah dan inspirasi besar bagi orang lain. Melalui keteguhan iman Maryam dan keluarga Imran, fajar harapan baru menyingsing bagi Nabi Zakariya, melahirkan Nabi Yahya AS yang meneruskan lentera iman di bumi.
Semoga kisah ini mengingatkan kita: di mana iman dijaga dengan tulus, di sana pintu-pintu keajaiban senantiasa terbuka, bahkan di saat logika manusia mengatakan “itu mustahil.”

