Menyoal Budaya Organisasi

Menyoal Budaya Organisasi

Oleh: Hidayat Tri Sutardjo

Budaya organisasi adalah DNA perusahaan. Ia tidak terlihat secara fisik, tapi kamu bisa merasakannya dari cara orang bekerja, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan bahkan cara mereka menghadapi kegagalan. Tanpa budaya yang kuat, strategi bisnis terbaik pun bisa ambruk di tengah jalan.

Faktanya, banyak perusahaan yang sudah punya nilai-nilai korporat yang bagus, tapi karyawannya tidak benar-benar menginternalisasi nilai tersebut. Kenapa? Karena tidak ada proses pembelajaran yang berkelanjutan. Satu kali orientation saja tidak cukup. Budaya butuh pengulangan, penguatan, dan contoh nyata dari para pemimpin. Seperti diutarakan Geert Hofstede, peneliti Belanda yang dikenal lewat risetnya tentang dimensi budaya, menyebutkan dalam Cultures and Organizations: Software of the Mind (2010) bahwa nilai-nilai budaya tidak bisa sekadar diajarkan, mereka harus dirasakan dan dialami.

Budaya organisasi selain mengarahkan semua orang di dalam organisasi mengenai cara yang benar dalam melakukan sesuatu, menentukan apa yang penting dan tidak penting juga membantu organisasi untuk tumbuh dan berkembang. Nilai dan asumsi suatu budaya organisasi tidak dapat dilihat secara langsung tetapi memiliki kekuatan untuk membentuk segala hal yang terjadi di dalam organisasi.

Sikap dan pelayanan karyawan dari sebuah perusahaan besar yang baik dan mencitrakan perusahaan adalah cerminan budaya yang ada pada perusahaan tersebut. Budaya organisasi sebuah perusahaan bukanlah terjadi secara instan begitu saja, tetapi diperlukan proses yang panjang hingga tahunan untuk membentuk karyawan yang bisa menerapkan budaya perusahaannya dengan baik dan konsisten.

Tahapan proses pembentukan budaya organisasi dimulai dari penyusunan nilai-nilai yang berlaku dalam organisasi, kemudian diinternalisasikan melalui sosialisasi yang meliputi komunikasi, internalisasi dan implementasi setiap anggota organisasi melalui pembentukan change agent serta penyusunan sistem dan prosedur untuk menjaga dan memelihara kesinambungan. 

Oleh karenanya, untuk membangun budaya organisasi diperlukan langkah-lagkah sebagai berikut:

  • Menetapkan Visi dan Misi Organisasi

Visi dan misi organisasi ini akan mengarahkan organisasi dalam menjalankan bisnisnya, sehingga dibutuhkan analisis yang mendalam agar dapat menjadi brandinf organisasi.

  • Mensosialisasikan Visi dan Misi

Setelah visi dan misi ditetapkan langkah selanjutnya adalah sosialisasi kepada seluruh elemen organisasi agar mengetahui, memahami, menginternalisasi dan mengimplementasikan mengenai visi dan misi organisasi.

  • Menetapkan Budaya Kerja

Budaya kerja sebagai suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuasaan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu organisasi, kemudian tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja. Oleh karena itu, memahami dan mengimplementasikan budaya kerja merupakan tugas berat yang harus dilakukan secara utuh dan menyeluruh karena menyangkut proses pembangunan karakter, sikap, dan perilaku manusia.

  • Mengimplementasikan Budaya Kerja secara Konsisten

Setiap budaya kerja yang sudah ditetapkan wajib diimplementasikan dalam praktik kerja sehari-hari di dalam maupun di luar organisasi. Fungsinya adalah agar masing-masing anggota organisasi terlatih untuk menjalankan budaya kerja yang sudah ditetapkan.

  • Mengukur Implementasi Budaya Kerja

Pengukuran implementasi budaya kerja ini untuk mengetahui hasil yang sudah dicapai dari penerapan budaya kerja secara periodic sehingga akan terbentuk sebuah proses sistem kerja yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan dan berjangka waktu.

  • Memberikan Reward dan Punishment

Pemberian reward dan punishment terhadap anggota organisasi yang sudah ataupun belum menjalankan budaya kerja sangat dibutuhkan agar anggota organisasi tetap bersemangat mengimplementasikan budaya kerja.

Edgar H. Schein (1992) dalam karyanya “Organizational Culture and Leadership” yang banyak menjadi referensi penulisan mengenai budaya organisasi, mendefinisikan dengan lebih luas bahwa budaya adalah “suatu pola asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan atau dikembangkan oleh kelompok tertentu sebagai pembelajaran untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal yang resmi dan terlaksana dengan baik dan oleh karena itu diajarkan kepada angota-anggota baru sebagai cara yang tepat untuk memahami, memikirkan dan merasakan terkait dengan masalah-masalah tersebut”.

Sang maestro dari konsep budaya organisasi ini juga mengemukakan 3 (tiga) elemen budaya organisasi, yakni:

  1. Artefak (Artifacts) merupakan bagian dari budaya organisasi yang paling luar dan tampak. Ia dapat diamati baik oleh para karyawan dan juga oleh pihak luar. Tidak jarang artefak dipilih dan dimunculkan agar pihak internal organisasi atau pihak eksternal organisasi mempersepsikannya sebagai nilai yang ingin ditanam. Berbagai contoh artefak adalah lambang-lambang dan berbagai benda yang dalam organisasi, seperti : logo, slogan, warna, dan bahasa.
  2. Values berarti nilai-nilai yang kasat mata. Artinya nilai-nilai ini terletak pada ranah “bawah sadar manusia” yang secara tidak langsung mempengaruhi perilaku seseorang. Nilai-nilai ini biasanya terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. Values sendiri dalam penerapan di budaya organisasi menjadi Espoused values (nilai yang diharapkan) dan enacted values (nilai yang sudah ada).
  3. Asumsi dasar (basic assumptions) adalah filosofi yang dianut seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi pola pikir, perasaan, emosi, mental-set mereka. Karena ia filosofi, maka letaknya jauh berada di dalam “kognitif” manusia yang dibentuk dalam waktu yang relatif panjang.

Untuk membangun budaya organisasi pada hakikatnya adalah membangun elemen-elemen budaya organisasi agar sesuai dengan visi, misi dan tujuan organisasi yang sudah ditetapkan. Pemimpin yang dibutuhkan adalah seorang leader yang memiliki visi jauh ke depan, baik dalam berkomunikasi dan memberikan contoh untuk mentransformasi kepada anggotanya.

Fungsi pemimpin organisasi dalam membangun budaya organisasi ini sangat penting karena dia yang menggerakkan anggota organisasi untuk mewujudkan dan mencapai visi, misi dan tujuan yang diharapkan organisasi. Oleh karenanya, pemimpin setidaknya harus mampu menjalankan atau mencontohkan elemen-elemen budaya organisasi yang sudah dibentuk dan ditetapkan kepada anggota organisasi agar bisa mengikutinya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *