SEPTOLESCENT: Menolak Pensiun dari Ketuaan

SEPTOLESCENT: Menolak Pensiun dari Ketuaan

Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)

📌 Apa Itu Septolescent dalam Cahaya Islam?

Septolescent adalah manusia yang rambutnya telah memutih, namun semangat beribadah dan berbuat baiknya justru kian membara. Usia menjelang 70 tahun bukan tanda berhenti, melainkan tanda semakin mendekat kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2330)

Uban yang tumbuh di kepala bukan tanda melemah, melainkan cahaya di hari kiamat:

“Janganlah kalian mencabut uban, karena uban itu adalah cahaya seorang muslim pada hari kiamat. Barangsiapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam, maka Allah akan mencatat untuknya satu kebaikan, menghapuskan satu dosa, dan meninggikannya satu derajat.”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

🔹 1. Usia Bertambah, Iman Semakin Mengalir

Remaja biasa sibuk mengejar dunia.
Septolescent sibuk menabung akhirat.

Remaja biasa takut kekurangan harta.
Septolescent takut kekurangan amal saat dipanggil Allah.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Tidaklah usia seorang mukmin itu bertambah kecuali akan menambah kebaikan.”
(HR. Imam Muslim)

🔹 2. Silaturahmi — Warisan Nabi yang Terus Dijaga

Septolescent menjaga tiga sahabat sejati:

  • 🤲 Teman beribadah bersama — saling mengingatkan kebaikan
  • 💬 Teman bermuhasabah — saling mengingatkan keterbatasan diri
  • 🤝 Teman silaturahmi — yang tidak memutus tali persaudaraan meski jarak membentang

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kerabat. Dan ketahuilah, silaturahmi bukanlah membalas kebaikan, melainkan silaturahmi yang sejati adalah menyambung hubungan ketika orang lain memutuskannya.”
(HR. Bukhari)

🔹 3. Selalu Berhajat — Karena Masih Ada yang Menanti

Mereka punya daftar rencana yang panjang — bukan karena mencintai dunia, tapi karena selama napas masih berhembus, pintu amal belum tertutup.

Allah berfirman:

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”
(QS. Al-Hijr: 99)

Ibadah tidak mengenal masa pensiun. Selama Allah belum memanggil, agenda kebaikan tetap berjalan.

“Karena kita belum tahu kapan Allah memanggil. Selama belum dipanggil, ladang amal masih terbentang.”

🔹 4. Bersyukur di Atas Segala Keterbatasan

Tubuh mungkin melemah, tapi hati semakin dekat kepada Allah. Jalan kaki mungkin terasa berat, tapi setiap langkah menuju kebaikan dicatat sebagai amal.

Allah SWT berfirman:

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Mereka menghitung berkah, bukan kekurangan:
🙏 Masih bisa sujud → itu kemuliaan
🙏 Masih bisa berdzikir → itu cahaya
🙏 Masih bisa melihat keluarga → itu rahmat
🙏 Masih bisa bangun pagi → itu kesempatan yang Allah beri

🔹 5. Tidak Mengharap Kematian, Tapi Bersiap Menghadap-Nya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian dan jangan pula berdoa agar segera mendapatkannya. Sesungguhnya bila ia mati, maka terputuslah amalannya.”
(HR. Imam Muslim)

Septolescent tidak berkata: “Sudah tua, kapan dipanggil ya?”
Tapi berkata: “Masih diberi waktu, apa lagi yang bisa kulebihkan untuk bekal ke sana?”

Mereka memohon:

“Ya Allah, jika Engkau memanjangkan umurku, maka jadikanlah ia dalam ketaatan-Mu. Jika Engkau mematikan aku, maka ampunilah rahasiaku dan perjalananku.”

💡 Penutup: Definisi Septolescent dalam Cahaya Iman

Septolescent adalah orang yang menyadari bahwa uban di kepalanya adalah undangan Allah untuk segera pulang, tapi ia tidak berjalan terburu-buru — ia berjalan sambil menabur kebaikan di sepanjang jalan yang dilewatinya.

Rambut boleh memutih.
Langkah boleh melambat.
Tapi semangat berbuat baik tidak boleh ikut pensiun.

Karena setiap hari yang Allah beri adalah kesempatan baru untuk menambah bekal pulang.

Kalau ditanya: “Kapan kalian akan berhenti beramal?”
Jawab dengan penuh syukur dan harap:

✨ “Nanti saja… kalau Allah sudah memanggil. Selama itu belum terjadi, mari kita perbanyak amal.” ✨

Tentu saja! Ini versi yang sudah dikaitkan dengan nilai-nilai Islam:

✨ SEPTOLESCENT: Menolak Pensiun dari Ketaatan

📌 Apa Itu Septolescent dalam Cahaya Islam?

Septolescent adalah manusia yang rambutnya telah memutih, namun semangat beribadah dan berbuat baiknya justru kian membara. Usia menjelang 70 tahun bukan tanda berhenti, melainkan tanda semakin mendekat kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2330)

Uban yang tumbuh di kepala bukan tanda melemah, melainkan cahaya di hari kiamat:

“Janganlah kalian mencabut uban, karena uban itu adalah cahaya seorang muslim pada hari kiamat. Barangsiapa yang memiliki sehelai uban dalam Islam, maka Allah akan mencatat untuknya satu kebaikan, menghapuskan satu dosa, dan meninggikannya satu derajat.”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

🔹 1. Usia Bertambah, Iman Semakin Mengalir

Remaja biasa sibuk mengejar dunia.
Septolescent sibuk menabung akhirat.

Remaja biasa takut kekurangan harta.
Septolescent takut kekurangan amal saat dipanggil Allah.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Tidaklah usia seorang mukmin itu bertambah kecuali akan menambah kebaikan.”
(HR. Imam Muslim)

🔹 2. Silaturahmi — Warisan Nabi yang Terus Dijaga

Septolescent menjaga tiga sahabat sejati:

  • 🤲 Teman beribadah bersama — saling mengingatkan kebaikan
  • 💬 Teman bermuhasabah — saling mengingatkan keterbatasan diri
  • 🤝 Teman silaturahmi — yang tidak memutus tali persaudaraan meski jarak membentang

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kerabat. Dan ketahuilah, silaturahmi bukanlah membalas kebaikan, melainkan silaturahmi yang sejati adalah menyambung hubungan ketika orang lain memutuskannya.”
(HR. Bukhari)

🔹 3. Selalu Berhajat — Karena Masih Ada yang Menanti

Mereka punya daftar rencana yang panjang — bukan karena mencintai dunia, tapi karena selama napas masih berhembus, pintu amal belum tertutup.

Allah berfirman:

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”
(QS. Al-Hijr: 99)

Ibadah tidak mengenal masa pensiun. Selama Allah belum memanggil, agenda kebaikan tetap berjalan.

“Karena kita belum tahu kapan Allah memanggil. Selama belum dipanggil, ladang amal masih terbentang.”

🔹 4. Bersyukur di Atas Segala Keterbatasan

Tubuh mungkin melemah, tapi hati semakin dekat kepada Allah. Jalan kaki mungkin terasa berat, tapi setiap langkah menuju kebaikan dicatat sebagai amal.

Allah SWT berfirman:

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)

Mereka menghitung berkah, bukan kekurangan:
🙏 Masih bisa sujud → itu kemuliaan
🙏 Masih bisa berdzikir → itu cahaya
🙏 Masih bisa melihat keluarga → itu rahmat
🙏 Masih bisa bangun pagi → itu kesempatan yang Allah beri

🔹 5. Tidak Mengharap Kematian, Tapi Bersiap Menghadap-Nya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian dan jangan pula berdoa agar segera mendapatkannya. Sesungguhnya bila ia mati, maka terputuslah amalannya.”
(HR. Imam Muslim)

Septolescent tidak berkata: “Sudah tua, kapan dipanggil ya?”
Tapi berkata: “Masih diberi waktu, apa lagi yang bisa kulebihkan untuk bekal ke sana?”

Mereka memohon:

“Ya Allah, jika Engkau memanjangkan umurku, maka jadikanlah ia dalam ketaatan-Mu. Jika Engkau mematikan aku, maka ampunilah rahasiaku dan perjalananku.”

💡 Penutup: Definisi Septolescent dalam Cahaya Iman

Septolescent adalah orang yang menyadari bahwa uban di kepalanya adalah undangan Allah untuk segera pulang, tapi ia tidak berjalan terburu-buru — ia berjalan sambil menabur kebaikan di sepanjang jalan yang dilewatinya.

Rambut boleh memutih.
Langkah boleh melambat.
Tapi semangat berbuat baik tidak boleh ikut pensiun.

Karena setiap hari yang Allah beri adalah kesempatan baru untuk menambah bekal pulang.

Kalau ditanya: “Kapan kalian akan berhenti beramal?”
Jawab dengan penuh syukur dan harap:

✨ “Nanti saja… kalau Allah sudah memanggil. Selama itu belum terjadi, mari kita perbanyak amal.” ✨

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *