Perlunya Model Ekosistem Kurban Terpadu

Jakarta, meskotabekasi.org— Ibadah kurban pada momentum Idul Adha bukanlah sekadar ritus vertikal (habl min Allah), melainkan sebuah instrumen redistribusi aset ekonomi dan ketahanan pangan yang masif (habl min al-nas).

Pelaksanaan ibadah kurban seharusnya bisa mengalirkan kekayaan dari kelas mampu ke masyarakat rentan, memastikan pemenuhan gizi protein hewani, dan menggerakan ekonomi mikro di pedesaan. Secara makro maupun mikro, aliran dana yang terjadi menjelang dan saat Idul Adha menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan melintasi batas-batas wilayah.

Sebagai kota metropolitan dengan padat penduduk dan tingkat urbanisasi yang tinggi, Kota Bekasi bertindak sebagai pusat konsumsi (daerah surplus kurban). Data historis (seperti riset IDEAS) kerap menggolongkan Bekasi sebagai salah satu wilayah dengan potensi surplus daging kurban terbesar di Indonesia (mencapai di atas 2.000 ton).

Kota Bekasi memiliki potensi ekonomi kurban yang sangat besar (berstatus surplus area). Namun, perputaran dana kurban saat ini masih bersifat musiman (seasonal shock) dan belum Terpadu dengan ekosistem ekonomi syariah daerah.

Menurut Dr. Abdul Khoir, Ketum MES Kota Bekasi menjelaskan bahwa “Aliran dana dari pekurban di kota Bekasi itu mengalir ke ratusan lapak pedagang hewan musiman di pinggir jalan, jasa jagal/RPH, pengrajin pisau, hingga penyedia kantong pembungkus ramah lingkungan”.

Di sisi lain “Distribusi daging kurban yang masif dalam waktu 3–4 hari menurunkan beban pengeluaran pangan (food expenditure) keluarga miskin di Kota Bekasi untuk komoditas protein hewani selama beberapa minggu” ujar Dosen UNISMA ini.

Sehingga Abdul Khoir ini merekomendasikan perlu dirumuskan bersama Model Ekosistem Kurban Terpadu yang mengaitkan sektor keuangan syariah (ZISWAF & Perbankan Syariah) dengan sektor riil (peternakan, logistik, pengolahan) untuk memperpanjang siklus perputaran uang (velocity of money) serta memaksimalkan dampak pengganda (multiplier effect) terhadap perekonomian lokal Kota Bekasi.

Upaya tersebut akan melihatkan efek pengganda kurban secara nyata seperti peningkatan pendapatan yang dibelanjakan kembali ke pasar ritel/UMKM Bekasi. Terbentuknya basis dana murah (low-cost fund) jangka panjang di perbankan syariah daerah. Dan penurunan beban anggaran daerah untuk program penanganan stunting dan kemiskinan.

Sedangkan Hidayat Tri, Chief Financial Officer MOSAIC Indonesia menyatakan bahwa “Transformasi dalam filantropi Islam menjadi hal yang mendesak. Paradigma lama yang memandang bantuan sosial sebagai pemadam kebakaran jangka pendek harus mulai dialihkan pada investasi lingkungan jangka Panjang”, tandasnya.

Lebih lanjut Hidayat menjelaskan meskipun nilai transaksi kurban di Kota Bekasi mencapai miliaran rupiah setiap tahunnya, dampak ekonominya belum optimal. Hal ini disebabkan karena pertama, dana dari pekurban Kota Bekasi mayoritas langsung mengalir ke luar daerah (sentra peternak di luar Jawa Barat) tanpa menyisakan nilai tambah (value-added) yang signifikan bagi sektor pendukung lokal di Bekasi.

Kedua, Aktivitas ekonomi kurban berhenti total pasca-Hari Tasyrik. Belum ada instrumen yang mengonversi lonjakan likuiditas ini menjadi modal produktif yang bergulir sepanjang tahun. Dan ketiga, proses penyembelihan dan distribusi di fasilitas non-RPH (Rumah Pemotongan Hewan) masih menghadapi tantangan pemenuhan standar Halalan Thayyiban dan manajemen limbah perkotaan.

Oleh karenya, Hidayat setuju sekali dengan usulan Abdul Khoir untuk menyusun secara bersama-sama Model Ekosistem Kurban Terpadu agar multiplier effect ibadah kurban bisa terlihat nyata terhadap perekonomian Kota Bekasi dengan pelibatan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) se-Bekasi, BAZNAS, Bank Syariah, dan asosiasi peternak Jabar untuk transparansi harga, kuota pasokan, dan pemerataan distribusi agar tidak menumpuk di pusat kota saja

Dalam usulan model tersebut pengaturan zonasi lapak kurban yang higienis, sertifikasi halal bagi Juru Sembelih Halal (JULEHA) lokal, dan pemanfaatan RPH Syariah dan modern dengan fasilitasi uji laboratorium dan sertifikasi halal gratis bagi UMKM lokal Kota Bekasi yang bergerak di bidang pengalengan/retort daging kurban pasca-Idul Adha (hd).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *