MES Kota Bekasi Mengikuti Pelatihan Fasilitator Peningkatan Peran Rumah Ibadah

Jakarta-meskotabekasi.org- Tiga orang utusan MES Kota Bekasi, Dhany Wahab, M Hatta, dan Hidayat Tri mengikuti Pelatihan Fasilitator Peningkatan Peran Rumah Ibadah Dalam Perlindungan Hutan Tropis. Pelatihan ini berlangsung di Hotel Novotel Cikini Jakarta Pusat (19/10) yang diselenggarakan oleh Interfaith Rainforest initiative (IRI) Indonesia.

Pelatihan ini bertujuan untuk menciptakan fasilitator yang kompeten dan berdedikasi, yang mampu mendorong peran aktif rumah ibadah dalam menjaga kelestarian hutan tropis Indonesia. Dengan sinergi antara pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai agama, diharapkan akan tercipta gerakan pelestarian hutan yang transformatif dan berkelanjutan.

Seperti diketahui bahwa Indonesia, sebagai negara dengan kekayaan hayati yang luar biasa, tengah menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelestarian hutan tropisnya. Deforestasi dan degradasi hutan terus berlangsung, mengancam keanekaragaman hayati, memperparah perubahan iklim, dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Di tengah situasi kritis ini, umat beragama memiliki peran penting yang tak bisa diabaikan. Nilai-nilai spiritual dan ajaran moral yang mereka anut dapat menjadi landasan kuat untuk mendorong tindakan nyata dalam melindungi hutan.

Menurut Dr. Gatot Supangkat, yang menjadi salah satu narasumber menegaskan bahwa “Rumah ibadah, sebagai pusat kegiatan spiritual dan sosial, memiliki pengaruh yang signifikan dalam masyarakat”. Mereka bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, pembinaan moral, dan penggerak aksi sosial. Potensi ini menjadikan rumah ibadah sebagai agen perubahan yang ideal dalam upaya konservasi hutan. Dengan melibatkan rumah ibadah secara aktif, diharapkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan akan meningkat, dan pada akhirnya akan mendorong tindakan kolektif untuk melindungi hutan”.

Sementara itu Dr. Hayu Prabowo, Fasilitator Nasional IRI mengatakan “perlunya sinergi keagamaan untuk melakukan aksi nyata dan advokasi dalam menjaga kelestarian alam, terutama hutan tropis di Indonesia. Perubahan iklim dan perlindungan hutan tropis merupakan isu-isu penting yang harus dikampanyekan kepada masyarakat untuk menggugah kesadaran publik dalam merespon permasalahan lingkungan hidup”, katanya.

Dr. Triyono, Dosen UM Yogyakarta menjelaskan bahwa “Rumah ibadah dapat menjadi jejaring sosial untuk aksi kemanusiaan dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam dan peningkatan kapasitas jamaah untuk ibadah, edukasi dan sosial”.

Pelatihan ini diikuti 200 peserta yang terdiri dari perwakilan majelis agama yang ada di Indonesia dan dilaksanakan secara hybrid (offline dan online). Semangat kolaborasi lintas agama ini diharapkan dapat diimplementasikan secara efektif, sehingga sangat dibutuhkan fasilitator yang kompeten dan berdedikasi. Fasilitator akan berperan sebagai jembatan antara informasi dan aksi, membantu para pemuka agama dan komunitas rumah ibadah memahami isu-isu lingkungan, mengintegrasikan nilai-nilai konservasi ke dalam kegiatan keagamaan, dan mengembangkan program-program yang berdampak nyata.(ts)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *