Oleh: Sobirin Malian (Dosen Penggiat Literasi)
Di antara semua narasi tentang akhir zaman, pembicaraan mengenai Ad‑Dajjal sering kali lebih banyak disoroti dari sisi sosok fisik yang menakutkan. Padahal inti hakikatnya adalah sebuah ujian batin yang sangat berat: bagaimana manusia tetap bertahan pada tauhid ketika kebatilan tampak seperti kebenaran yang nyata. Ia bukan sekadar sosok luar biasa yang akan muncul di masa depan, melainkan juga pola tipu daya yang telah bersemai sejak lama di tengah peradaban manusia.
Makna Nama dan Sifat Dasar Penipu
Kata Dajjal berasal dari akar kata dajala yang berarti menutupi, menyamarkan, dan membohongi. Nama ini menggambarkan watak utamanya: ia pandai melapisi keburukan dengan penampilan menarik, menutupi kekeliruan dengan narasi yang meyakinkan.
Disebut juga Al‑Masih ad‑Dajjal, sebagai lawan dari Al‑Masih Isa AS. Nabi Isa adalah penyembuh jiwa dan pembawa kebenaran; sedangkan Dajjal adalah penyembuh palsu yang menjanjikan kesejahteraan duniawi guna menjauhkan manusia dari penciptanya. Ciri buta sebelah matanya adalah simbol bahwa ia tidak memiliki pandangan spiritual terhadap kebenaran Ilahi, meskipun pandangan duniawinya tampak cerdas.
Isyarat Al‑Qur’an dan Penjelasan Ulama
Nama Dajjal tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al‑Qur’an. Para ulama seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal itu bisa menjadi bentuk penghinaan karena kesombongannya yang akan mengaku sebagai Tuhan. Namun Al‑Qur’an memberikan isyarat‑isyarat tentang datangnya fitnah besar sebelum hari kiamat, salah satunya pada QS Al‑An’am ayat 158 yang menyebutkan datangnya tanda‑tanda Tuhan yang menutup pintu tobat bagi kelompok tertentu. Para perawi hadits menjelaskan bahwa salah satu tanda besar itu adalah kemunculan Dajjal. Al‑Qur’an mengajak kita tidak hanya menunggu sosoknya, melainkan waspada terhadap pola penipuan yang ia bawa.
Potret dalam Hadits: Antara Kenyataan Fisik dan Makna Simbolis
Hadits‑hadits Rasulullah SAW menggambarkan ciri fisik Dajjal: pemuda berambut keriting, tubuh kekar, satu mata rusak menonjol, dan ada tulisan Kaf‑Fa‑Ra (kafir) di antara kedua matanya yang dapat dibaca oleh orang‑orang beriman. Lebih penting dari ciri fisik adalah kekuatan fitnahnya: ia seolah‑olah dapat menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, membawa air dan api yang terbalik maknanya. Bagi orang yang lemah iman, ia tampak seperti pemberi harapan; padahal ia menjerumuskan ke dalam kesesatan. Ia akan menguasai bumi selama empat puluh hari dengan durasi yang terasa berbeda‑beda, menjadi masa ujian yang menguji keteguhan hati.
Dua Perspektif Ulama: Sosok Nyata dan Sistem Fitnah
Para ulama mengembangkan dua pandangan yang saling melengkapi:
1. Pandangan tekstual mayoritas Ahlusunnah: Dajjal adalah sosok manusia nyata yang akan muncul di akhir zaman. Kemampuan‑kemampuannya adalah ujian dari Allah, dan ia akan dikalahkan oleh Nabi Isa AS di dekat Ludd, Palestina. Percaya akan kehadirannya termasuk bagian dari keyakinan terhadap hari akhir.
2. Pandangan kontekstual para pemikir modern: Tanpa menolak kemungkinan sosok fisiknya, mereka melihat pola Dajjal sebagai sistem penipuan global: dominasi materialisme, narasi media yang memutarbalikkan kebenaran, serta budaya yang mendewakan kemewahan dunia di atas nilai‑nilai Ilahi. Pola‑pola ini sudah ada dan tumbuh sejak sekarang.
Waspada terhadap “Dajjal‑Dajjal Kecil” di Masa Kini
Bahaya terbesar sering kali bukan pada sosok besar yang belum muncul, melainkan pada fitnah‑fitnah kecil yang kita hadapi setiap hari. Rasulullah SAW bersabda akan muncul sekitar tiga puluh pendusta sebelum Dajjal besar hadir, yang mengaku membawa kebenaran. Ini bisa berupa tokoh‑tokoh yang menyalahgunakan nama agama demi kepentingan dunia, atau narasi‑narasi yang membenarkan kebohongan demi keuntungan.
Setiap kali kita lebih percaya pada narasi dunia daripada ajaran Allah, setiap kali kita mengorbankan prinsip keimanan demi kenyamanan sesaat, berarti kita sedang menghadapi cerminan fitnah Dajjal di dalam kehidupan sehari‑hari.
Cara Menjaga Diri
Para ulama menyarankan beberapa langkah perlindungan: memperbanyak membaca Surah Al‑Kahfi, rutin berdoa perlindungan di akhir shalat, memperdalam ilmu agama, dan menjaga hati agar tidak terpesona hanya oleh kemewahan dunia. Yang menjadi benteng utama bukanlah pengetahuan tentang ciri fisiknya saja, melainkan keteguhan tauhid di dalam hati.
Dajjal adalah pengingat: pertarungan terbesar manusia di akhir zaman bukanlah pertarungan pedang, melainkan pertarungan kebenaran melawan tipu daya yang tampak indah.

