Bisnis yang barokah adalah bisnis yang menjaga kejujuran dalam setiap transaksi, tidak mengambil keuntungan dengan cara yang merugikan dan memerhatikan kesejahteraan semua pihak. Dalam jangka pendek, pendekatan ini mungkin terlihat kurang optimal secara profit, tetapi dalam jangka panjang akan menciptakan kepercayaan (trust) sesuatu yang lebih kuat.
Menurut H. Siswadi, Ketua Dewan Pakar MES Kota Bekasi (2026) menegaskan bahwa “Pemahaman kita tentang sabar, ikhlas, dan syukur (SIS) penting karena akan menentukan kualitas ibadah dan ketenangan batin seseorang. Perjalanan ruhani seseorang tidak hanya bergantung pada amal lahir, tetapi juga kondisi hati. Oleh karenanya, memahami perbedaan ketiganya akan membantu seseorang menapaki jalan spiritual secara lebih terarah.”
Lebih lanjut, Siswadi menjelaskan “Sabar itu bukan sekadar menahan diri, melainkan kemampuan untuk tetap teguh dalam tiga kondisi: saat menghadapi ujian, saat menjalankan ketaatan, dan saat menahan diri dari maksiat. Menariknya, sabar bukan berarti pasif. Seseorang tetap berusaha, tetapi tidak mudah putus asa. Ia mengendalikan emosi dan tetap fokus pada tujuan yang diridhai Allah.”
“Ikhlas berarti memurnikan niat semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan pujian, imbalan, atau pengakuan manusia. Tanpa ikhlas, amal bisa kehilangan nilai di sisi Allah. Dan syukur berarti menyadari nikmat Allah, mengakuinya dalam hati, mengucapkannya dengan lisan, dan menggunakannya dalam kebaikan. Syukur biasanya hadir setelah seseorang menerima nikmat. Namun, dalam tingkat yang lebih tinggi, seorang hamba tetap bersyukur bahkan dalam kondisi sulit, karena ia melihat hikmah di balik setiap kejadian.”
Dari pemahaman SIS di atas, kita bisa melihat dengan jelas bahwa
“Filosofi SIS adalah tiga pilar utama penenang jiwa yang saling terhubung: sabar adalah ketahanan menghadapi cobaan, ikhlas adalah ketulusan melepas hasil, dan syukur adalah penerimaan atas segala nikmat.”
“Sabar (Menahan Diri) meliputi; Sabar membangun usaha, Sabar menghadapi persaingan, Sabar menghadapi kerugian dan ujian, dan Sabar menjaga integritas.”
“Ikhlas (Tulus Beramal) meliputi; Bekerja karena Allah, Jujur meskipun tidak diawasi, dan Mengutamakan kebermanfaatan dibanding popularitas.”
“Syukur (Berterima Kasih) meliputi; Bersyukur saat untung, Bersyukur saat rugi karena menjadi Pelajaran, Berbagi melalui zakat, infak, sedekah, dan pemberdayaan masyarakat.”
“Dalam tataran operasionalnya, bisnis terbaik itu adalah bisnis yang memberdayakan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas, menjaga lingkungan, dan menumbuhkan ekonomi umat. Indikator keberhasilannya diukur dari 3 P, yakni Profit (keuntungan), People (kemanfaatan)︎, dan Purpose (ridha Allah).”
Untuk mengimplementasikan SIS dalam berbisnis adalah kunci utama untuk mencapai ketenangan mental dan keberkahan jangka panjang sehingga diperlukan latihan secara terus menerus. Sabar diterapkan saat menghadapi ujian atau penurunan omzet, ikhlas dijalankan dengan fokus pada proses dan niat baik tanpa pamrih, serta syukur diwujudkan dengan mengelola dan menyalurkan keuntungan secara bijak.
Berlatih Sabar seperti tidak mudah menyerah saat merintis usaha dari nol, tenang ketika menghadapi masalah seperti komplain pelanggan, keterlambatan pasokan, atau sepinya pembeli, tidak tergiur melakukan praktik bisnis yang tidak jujur atau riba demi meraup untung cepat.
Berlatih Ikhlas, dengan berbisnis bukan sekadar mencari materi, melainkan sebagai sarana ibadah dan memberi manfaat bagi sesame, berlapang dada saat mengalami kerugian atau target tidak tercapai, menyadari bahwa ada ketetapan Tuhan yang terbaik, melepaskan keterikatan berlebihan pada hasil akhir, yang penting sudah berikhtiar secara maksimal dan jujur.
Berlatih Syukur, mensyukuri setiap pendapatan, sekecil apapun itu, tanpa mengeluh, mengeluarkan zakat dan menyisihkan sebagian keuntungan untuk membantu sesama agar rezeki semakin berkah, memanfaatkan keuntungan bisnis untuk hal-hal yang produktif, halal, dan tidak boros.
Sementara itu, menurut Dr. Ferry Cahyadi Putra (2026) menjelaskan bahwa “dalam persepektif divine value exchange, barokah bukan hasil strategi, tetapi juga hasil dari hubungan dengan Allah. Ia tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan, tetapi juga oleh bagaimana dan untuk ap itu dilakukan”.
“Ketika bisnis dijalankan dengan niat yang benar, dengan cara yang benar, dan dengan kesadaran akan Allah, maka barokah hadir. Dan Ketika barokah hadir, maka yang sedikit terasa cukup, yang kecil terasa besar, dan yang terbatas terasa luas.”
Lebih lanjut penulis buku “Berbisnis Dengan Allah” ini menegaskan bahwa “Dalam berbisnis, konsep barokah sering kali terdengar asing. Ia tidak bisa dihitung dalam laporan keuangan, tidak muncul dalam grafik pertumbuhan, dan tidak selalu terlihat dalam indikator keberhasilan konvensional. Namun, justru karena itulah, barokah menjadi salah satu konsep paling penting dalam memahami kehidupan dari perspektif Qur’ani.”
“Barokah bukan hanya konsep teologis, tetapi cara melihat kehidupan. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang besar itu bernilai, dan tidak semua yang kecil itu tidak berarti. Ia mengingatkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita menjalani. Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak bisa diukur, tetapi bisa dirasakan. Sesuatu membuat hidup tidak hanya berjalan, tetapi bermakna.” tegas Ferry.
Bila kita perhatikan, filosofi barokah secara mendasar bermakna ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan. Konsep ini bukan tentang jumlah yang besar secara fisik, melainkan kualitas, manfaat, serta ketenangan batin yang melekat pada sesuatu. Nilai barokah membuat sedikit terasa cukup dan banyak mendatangkan ketaatan kepada Tuhan.
Dari pemahaman tentang barokah tersebut, maka kita bisa mengerti tentang makna dan hakikat dari barokah bahwa nilai intrinsik yang membuat rezeki atau waktu memberi dampak positif yang berkelanjutan, rasa cukup (qana’ah) atas apa yang dimiliki tanpa ada rasa serakah, dan ibarat mata air jernih yang terus mengalir dan menghidupi sekitarnya meskipun diambil terus-menerus.
Oleh karenanya,segala nikmat yang kita terima baik harta, ilmu, dan usia senantiasa mendorong diri kita untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta. Hidup terasa damai, minim kecemasan berlebih, dan harmonis dengan lingkungan sekitar.Serta keberadaan seseorang atau hartanya memberi solusi dan kebaikan bagi orang lain.

