Surga yang Terabaikan

Surga yang Terabaikan

Oleh Dr. Syahruddin Ramlan, SE, MPA

Di balik gemerlap kemajuan ekonomi dan modernisasi kehidupan, tersimpan sebuah ironi sosial yang menyedihkan. Orang tua yang dahulu mengorbankan waktu, tenaga, dan kehidupannya demi membesarkan anak-anak, justru harus menghabiskan masa senja dalam kesepian. Sebagian tinggal di panti jompo, bukan karena tidak memiliki keluarga, melainkan karena kehadirannya tidak lagi dianggap penting.

Dalam Islam, orang tua menempati kedudukan yang sangat mulia. Al-Qur’an secara tegas memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada keduanya. Allah SWT berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra: 23).

Ayat tersebut menegaskan bahwa menghormati orang tua bukan sekadar kewajiban moral, melainkan perintah agama yang berdampingan dengan kewajiban menyembah Allah SWT.

Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan keras kepada mereka yang menyia-nyiakan kesempatan berbakti kepada orang tua. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi bersabda, “Celakalah dia, celakalah dia, celakalah dia.” Ketika ditanya siapa yang dimaksud, beliau menjawab bahwa seorang anak yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah lanjut usia, tetapi tidak menyebabkan dia masuk surga. (HR. Muslim No. 2551).

Pesan hadis tersebut sangat mendalam. Kehadiran orang tua pada usia senja merupakan kesempatan memperoleh keridaan Allah melalui pengabdian, kasih sayang, dan penghormatan.

Sayangnya, pengabaian orang tua kini hadir dalam berbagai bentuk. Ada anak yang secara ekonomi berhasil, tetapi tidak pernah menyediakan waktu untuk mengunjungi orang tuanya. Ada yang rajin mengirim uang, tetapi mengabaikan kebutuhan emosional mereka. Ada pula yang menganggap orang tua sebagai beban, membatasi komunikasi, mengabaikan keluhan kesehatan, bahkan memperebutkan harta warisan ketika mereka masih hidup.

Kemajuan teknologi pun menghadirkan paradoks. Anak-anak mampu berkomunikasi dengan siapa saja di seluruh dunia, tetapi sering lupa menelepon ibu atau ayah yang menunggu kabar sepanjang hari.

Tentu, menitipkan orang tua di panti jompo tidak selalu berarti menelantarkan. Dalam keadaan tertentu, fasilitas tersebut justru menyediakan perawatan profesional yang dibutuhkan. Persoalan sesungguhnya adalah ketika tanggung jawab kasih sayang ikut diserahkan, kunjungan terhenti, dan hubungan keluarga perlahan terputus.

Masyarakat modern sering mengukur keberhasilan melalui pendidikan, jabatan, kekayaan, dan prestise sosial. Namun, apakah makna seluruh pencapaian itu jika orang tua yang dahulu membesarkan kita justru merasa tidak lagi memiliki tempat dalam kehidupan anak-anaknya?

Berbakti kepada orang tua tidak selalu membutuhkan kekayaan. Terkadang cukup dengan mendengarkan cerita mereka, menemani makan, memastikan kesehatannya, atau menggenggam tangan yang dahulu menuntun langkah pertama kita.

Pada akhirnya, orang tua bukan beban masa lalu, melainkan amanah kehidupan. Selagi mereka masih hidup, kesempatan berbakti tetap terbuka. Jangan sampai kita sibuk mencari jalan menuju surga, sedangkan salah satu pintunya justru kita abaikan di rumah kita sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *