{"id":928,"date":"2026-10-25T11:43:47","date_gmt":"2026-10-25T11:43:47","guid":{"rendered":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/?p=928"},"modified":"2026-10-25T11:43:48","modified_gmt":"2026-10-25T11:43:48","slug":"engagement-dan-work-life-balance-gen-z-perspektif-maqashid-syariah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/?p=928","title":{"rendered":"Engagement dan Work-Life Balance Gen Z: Perspektif Maqashid Syariah"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Oleh: Dr. Husnul Khatimah, S.E., M.Si. (Dekan FEB UM Indonesia)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Generasi Z mulai menjadi bagian penting dalam dunia kerja. Mereka hadir dengan karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Bagi banyak pekerja Gen Z, pekerjaan bukan semata-mata tentang memperoleh penghasilan, tetapi juga tentang menemukan makna, mendapatkan ruang untuk berkembang, memiliki lingkungan kerja yang sehat, serta tetap dapat menjalani kehidupan pribadi secara seimbang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks tersebut, employee engagement dan work-life balance menjadi dua isu penting dalam pengelolaan sumber daya manusia. Menariknya, kebutuhan Gen Z terhadap pekerjaan yang bermakna, fleksibel, sehat, dan berkeadilan memiliki titik temu yang kuat dengan prinsip maqashid syariah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gen Z dan Makna Engagement<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Employee engagement menggambarkan keterikatan psikologis dan emosional pekerja terhadap pekerjaan dan organisasinya. Karyawan yang engaged bukan hanya hadir secara fisik, tetapi memiliki energi, keterlibatan, rasa memiliki, dan kemauan untuk memberikan kontribusi terbaik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Gen Z, engagement cenderung tidak cukup dibangun hanya melalui gaji dan insentif. Mereka juga membutuhkan pengakuan, kesempatan belajar, komunikasi yang terbuka, fleksibilitas, lingkungan kerja yang inklusif, serta pekerjaan yang memiliki purpose.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, organisasi perlu bergeser dari pendekatan \u201ckaryawan bekerja untuk perusahaan\u201d menuju hubungan yang lebih mutual: perusahaan menyediakan lingkungan yang memungkinkan karyawan tumbuh, sementara karyawan memberikan kontribusi terbaik bagi pencapaian tujuan organisasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Work-Life Balance Bukan Berarti Work Less<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Work-life balance sering disalahartikan sebagai keinginan pekerja untuk mengurangi pekerjaan. Padahal, konsep ini lebih tepat dipahami sebagai kemampuan individu mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan personal secara proporsional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Gen Z, keseimbangan tersebut semakin penting karena batas antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi semakin kabur akibat teknologi digital. Pesan WhatsApp, email, rapat daring, dan pekerjaan berbasis platform dapat membuat seseorang tetap merasa \u201csedang bekerja\u201d meskipun jam kerja formal telah selesai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus, pekerja dapat mengalami kelelahan, kehilangan motivasi, dan menurunnya engagement. Sebaliknya, organisasi yang memberikan fleksibilitas, batas waktu kerja yang sehat, kesempatan beristirahat, serta dukungan terhadap kehidupan personal berpotensi menciptakan pekerja yang lebih sehat dan lebih engaged.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Mana Maqashid Syariah Bertemu dengan Kebutuhan Gen Z?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maqashid syariah pada dasarnya menempatkan kemaslahatan manusia sebagai tujuan penting dalam kehidupan. Dalam konteks ketenagakerjaan modern, prinsip ini dapat menjadi landasan untuk membangun hubungan kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga manusiawi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lima tujuan utama maqashid syariah\u2014hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-\u2019aql, hifz al-nasl, dan hifz al-mal\u2014dapat diterjemahkan ke dalam praktik pengelolaan SDM.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertama, hifz al-din (menjaga agama).<br>Organisasi dapat menyediakan ruang bagi pekerja untuk menjalankan kewajiban keagamaannya. Fleksibilitas waktu untuk ibadah, lingkungan kerja yang menghormati nilai spiritual, dan budaya organisasi yang beretika dapat membuat pekerjaan tidak bertentangan dengan kebutuhan religius karyawan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, hifz al-nafs (menjaga jiwa).<br>Kesehatan fisik dan mental pekerja merupakan bagian penting dari kemaslahatan. Beban kerja yang wajar, waktu istirahat, lingkungan kerja yang aman, serta perhatian terhadap kesehatan mental merupakan bentuk nyata penerapan prinsip ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketiga, hifz al-\u2019aql (menjaga akal).<br>Gen Z membutuhkan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Program upskilling, reskilling, mentoring, dan pembelajaran berkelanjutan bukan hanya meningkatkan kompetensi organisasi, tetapi juga mendukung pengembangan intelektual pekerja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keempat, hifz al-nasl (menjaga keturunan dan keluarga).<br>Work-life balance memiliki hubungan erat dengan kehidupan keluarga. Kebijakan yang memungkinkan pekerja menjalankan tanggung jawab keluarga secara sehat dapat menciptakan keseimbangan antara produktivitas dan kehidupan personal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelima, hifz al-mal (menjaga harta).<br>Kompensasi yang adil, transparansi pengupahan, jaminan sosial, dan kesempatan pengembangan karier menjadi bagian penting dari perlindungan ekonomi pekerja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Engagement yang Berbasis Maslahah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari perspektif tersebut, engagement tidak semestinya hanya dipandang sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas. Engagement dapat ditempatkan sebagai bagian dari penciptaan maslahah bagi pekerja dan organisasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karyawan yang merasa dihargai, memiliki kesempatan berkembang, memperoleh imbalan yang adil, dapat menjalankan kehidupan spiritual dan keluarga, serta bekerja dalam lingkungan yang sehat akan lebih mungkin membangun keterikatan positif dengan organisasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Artinya, terdapat hubungan yang menarik:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maqashid Syariah \u2192 Maslahah Pekerja \u2192 Work-Life Balance \u2192 Employee Engagement \u2192 Produktivitas Berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendekatan ini menawarkan perspektif berbeda dalam pengelolaan Gen Z. Organisasi tidak hanya bertanya, \u201cBagaimana membuat Gen Z lebih produktif?\u201d, tetapi juga bertanya, \u201cBagaimana menciptakan tempat kerja yang membuat Gen Z dapat produktif tanpa kehilangan keseimbangan, nilai, kesehatan, dan makna hidupnya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penutup<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gen Z mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap dunia kerja, tetapi kebutuhan mereka terhadap pekerjaan yang sehat, adil, bermakna, fleksibel, dan manusiawi sesungguhnya memiliki relevansi kuat dengan nilai-nilai Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maqashid syariah memberikan kerangka bahwa keberhasilan organisasi tidak semata-mata diukur dari pencapaian finansial, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, employee engagement dan work-life balance bukan sekadar tren manajemen modern. Keduanya dapat menjadi bagian dari strategi membangun organisasi yang berorientasi pada manusia dan sejalan dengan prinsip maqashid syariah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada akhirnya, pekerja Gen Z tidak hanya mencari tempat untuk bekerja. Mereka mencari tempat untuk bertumbuh, berkontribusi, tetap menjadi dirinya sendiri, dan menjalani kehidupan secara seimbang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Husnul Khatimah, S.E., M.Si. (Dekan FEB UM Indonesia) Generasi Z mulai menjadi bagian penting dalam dunia kerja. Mereka hadir dengan karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Bagi banyak pekerja Gen Z, pekerjaan bukan semata-mata tentang memperoleh penghasilan, tetapi &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":929,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-928","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","grid-sizer"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/928","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=928"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/928\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":930,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/928\/revisions\/930"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/929"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=928"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=928"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=928"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}