{"id":1031,"date":"2026-11-04T01:31:13","date_gmt":"2026-11-04T01:31:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/?p=1031"},"modified":"2026-11-04T01:31:14","modified_gmt":"2026-11-04T01:31:14","slug":"sistem-tanpa-jiwa-pelajaran-dickens-dan-hugo-tentang-ketimpangan-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/?p=1031","title":{"rendered":"Sistem Tanpa Jiwa: Pelajaran Dickens dan Hugo tentang Ketimpangan Sosial"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Oleh Dr. Syahruddin Ramlan, SE, MPA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika berada di kota Garut-Jawa Barat, pada tanggal 11 April 2026 untuk urusan dinas, saya mendapatkan kesempatan mengunjungi perpustakaan yang bernama Parmawijaya Dendasasmita (PD) Library &amp; Creative Hub yang berlokasi di Jl. Kiansantang No.2, Paminggir, Kec. Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat berada di perpustakaan yang sangat nyaman dan trendy tersebut, pandanganku terpaku di antara susunan koleksi buku yang menempatkan karya Charles Dicken berdampingan dengan Les Mis\u00e9rables, tulisan Victor Hugo. Kejadian ini mengamit memori silam dua dekade lalu ketika diri masih mengandrungi bacaan buku-buku klasik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan fragmen favorit di antaranya: Di kota yang dipenuhi asap dan mesin, di mana langit seolah lupa warna birunya, manusia hidup seperti roda\u2014berputar tanpa henti, tanpa tanya. Setiap hari dimulai dengan bunyi yang sama, langkah yang sama, dan harapan yang perlahan memudar menjadi kebiasaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di ruang kelas yang dingin, anak-anak diajarkan bahwa dunia hanya terdiri dari angka dan fakta. Tidak ada ruang bagi imajinasi, tidak ada tempat bagi mimpi. \u201cApa yang bisa diukur, itulah yang berarti,\u201d kata sang guru, seolah kehidupan bisa diringkas menjadi hitungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun di luar dinding itu, ada hati-hati yang tak bisa dihitung (Hard Times, Charles Dicken).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain: di sudut kota yang dingin dan tak peduli, seorang lelaki berjalan dengan beban masa lalu yang tak terlihat namun terasa di setiap langkahnya. Ia pernah mencuri sepotong roti\u2014bukan karena serakah, tetapi karena lapar. Namun dunia tidak menghakimi niat, hanya tindakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang perempuan lain, dengan mata yang perlahan kehilangan cahaya, menjual apa yang tersisa dari dirinya\u2014rambut, martabat, harapan\u2014demi seorang anak yang bahkan tak berada di sisinya. Dalam sunyi penderitaan itu, tak ada hukum yang datang menyelamatkan, hanya waktu yang perlahan mengikis hidupnya (Les Mis\u00e9rables, Victor Hugo).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dua sudut Eropa abad ke-19, dua sastrawan besar mengajukan pertanyaan yang sama: apa yang terjadi ketika sistem yang seharusnya menata kehidupan justru mengikis kemanusiaan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Charles Dickens, jawabannya tampak di kota industri Inggris yang diselimuti asap. Dalam Hard Times, ia menggambarkan dunia yang dikuasai logika angka\u2014di mana fakta mengalahkan perasaan, dan efisiensi menyingkirkan empati. Manusia direduksi menjadi alat produksi, tak berbeda dari mesin yang mereka jalankan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, Victor Hugo menyaksikan bentuk ketidakadilan lain di Prancis. Melalui Les Mis\u00e9rables, ia menyoroti kerasnya sistem hukum dan sosial. Kisah Jean Valjean bukan sekadar tragedi individu, melainkan potret kegagalan sistem yang menghukum tanpa memberi ruang bagi belas kasih. Hukum berdiri tegak, tetapi keadilan sering kali absen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dickens dan Hugo tidak sekadar bercerita, melainkan mendiagnosis sistem. Dickens mengkritik kekerasan halus dari rasionalitas ekonomi yang mengabaikan sisi manusia. Hugo membongkar kekakuan hukum yang kehilangan nurani. Yang satu menguliti pasar, yang lain menantang legalitas. Namun keduanya bertemu pada satu simpulan: sistem tanpa landasan moral akan berubah menjadi sumber penderitaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Relevansi kritik ini terasa hingga hari ini. Dalam ekonomi global modern, efisiensi, produktivitas, dan pertumbuhan menjadi ukuran utama. Pekerja dalam rantai pasok sering dinilai dari output, bukan martabatnya. Di sisi lain, sistem hukum dan birokrasi masih menghasilkan keputusan yang tampak rasional, tetapi kerap melukai rasa keadilan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang mengkhawatirkan, dunia modern tidak meninggalkan sistem yang dikritik Dickens dan Hugo, melainkan menyempurnakannya. Mesin industri telah berubah menjadi algoritma digital, dan hukum kaku menjelma prosedur birokratis. Namun logikanya tetap sama: nilai manusia sering ditentukan oleh sistem yang tidak sepenuhnya memahami kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada akhirnya, kedua sastrawan ini tidak menolak sistem, tetapi menuntut arah moral. Dickens menekankan empati dalam ekonomi, sedangkan Hugo mengingatkan bahwa keadilan harus disertai belas kasih. Ketika sistem kehilangan jiwa, manusialah yang menanggung semua akibatnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Dr. Syahruddin Ramlan, SE, MPA Ketika berada di kota Garut-Jawa Barat, pada tanggal 11 April 2026 untuk urusan dinas, saya mendapatkan kesempatan mengunjungi perpustakaan yang bernama Parmawijaya Dendasasmita (PD) Library &amp; Creative Hub yang berlokasi di Jl. Kiansantang No.2, &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1032,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1031","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","grid-sizer"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1031","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1031"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1031\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1033,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1031\/revisions\/1033"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1032"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1031"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1031"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.meskotabekasi.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1031"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}